Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak menjaharkan suara, pada pagi dan petang, serta janganlah kamu termasuk sebagai orang-orang yang lalai." [Al-A'râf: 205] Dalam ayat yang mulia ini, terdapat sejumlah adab dan etika berkaitan dengan dzikir kepada Allah Ta'âlâ. الَّذِينَهُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ. " Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. " (QS. Al-Ma'un: 4-5). Para ulama menerangkan bahwa yang dimaksud "lalai" dalam ayat di atas mencakup tiga bentuk perbuatan, yaitu: 1. Menunda-nunda shalat Suratini terdiri atas 7 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat At Taakatsur. Nama Al Maa'uun diambil dari kata Al Maa'uun yang terdapat pada ayat 7, artinya barang-barang yang berguna. Pokok-pokok isinya: Beberapa sifat manusia yang dipandang sebagai mendustakan agama. Orang orang yang bersalah itu menjawab: "kami termasuk dalam kumpulan orang-orang yang tidak mengerjakan Sholat" Al-ayat. "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya." (QS. Al Maa'un [107] : 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi 'inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, 189-190) Alquranmengingatkan tentang orang-orang yang lalai dalam shalat. Alquran mengingatkan tentang orang-orang yang lalai dalam shalat. REPUBLIKA.ID; REPUBLIKA TV; GERAI; IHRAM; REPJABAR; REPJOGJA; RETIZEN; BUKU REPUBLIKA; REPUBLIKA NETWORK; Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022. Menu. HOME; RAMADHAN Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya." (QS. Al Maa'un [107] : 4-5) bukanlah dia termasuk golongan Islam. Allah tidak terima tauhid dan imannya dan tidak ada faedah shodakah, puasa dan syahadatnya". "kami termasuk dalam kumpulan orang-orang yang tidak mengerjakan Sholat dV1NaUf. Sebagai fondasi agama, shalat menjadi ibadah terpenting di dalam Islam. Jangankan tidak melakukannya, melalaikannya pun menjadi sebuah pelanggaran. "Maka, celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya."QS al-Maun 4- 5. Dalam menafsirkan ini, Imam Ibnu Katsir menukil salah satu pendapat ulama generasi tabiin, yakni Atha ibnu Dinar. Dia me muji Allah SWT yang telah me nyebut lalai dari shalat dan bukan lalai dalam shalat. Mereka lalai karena tidak menunaikannya pada awal waktu. Mereka menangguhkannya sampai akhir waktu terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan. Maka, celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. Dalam menunaikan shalat, ada kalanya mereka tidak memenuhi rukun-rukun dan persyaratan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Adakalanya juga mereka tidak khusyuk dan tidak merenungkan maknanya. Menurut Atha, pengertian lalai dalam ayat tersebut mencakup semua itu. Meski demikian, dia memberi catatan, orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat tersebut berarti dia mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh ayat ini. Barang siapa yang menyandang semua sifat tersebut, berarti telah sempurnalah bagiannya. Jadilah dia seorang munafik dalam amal perbuatannya. Salah satu tujuan adanya perintah shalat, yakni untuk mengingat Allah SWT. "Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku."QS Thaha 14. Imam Al Ghazali berkata, lalai adalah lawan dari ingat. Karena itu, barang siapa lalai dalam seluruh shalatnya, tidaklah mungkin ia mendirikan shalat untuk mengingat-Nya. Di sisi lain, Allah SWT berfirman, "Dan janganlah engkau termasuk dalam golongan orang-orang lalai." QS al-Araf 205. Ayat tersebut bermakna larangan yang memiliki makna lahir sebagai pengharaman. Tak hanya cukup di situ, Allah SWT pun berkata, "Hingga kalian me ngerti apa yang kalian katakan." QS an-Nisa 43. Keadaan ini menjadi sebab dilarangnya orang mabuk untuk shalat. Kondisi ini pun berlaku kepada orang-orang yang lalai serta orang yang pikirannya timbul dan tenggelam. Dia selalu waswas dalam shalatnya. Pikirannya dipengaruhi oleh dunia meski berada dalam rukuk dan sujud. Maka dari itu, amat benar perkataan Rasulullah SAW, "Sesungguhnya shalat hanya kemantapan hati dan kerendahan diri." Nabi SAW juga membatasi sabdanya dengan alif dan lam serta dengan kata 'innama'. Maksudnya, menetapkan dan menguatkan. Begitu juga sabda Rasulullah SAW, "Barang siapa shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, ia tidaklah bertambah dari Allah kecuali jauhnya." Menurut Imam Al Ghazali, shalatnya orang lalai itu tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar. Barang siapa shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, ia tidaklah bertambah dari Allah kecuali jauhnya. Tidak heran jika Nabi SAW bersabda, "Betapa banyak orang yang melaksanakan shalat, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya selain kelelahan dan kepayahan. " Bukankah Nabi SAW juga bersabda, "Tidaklah seorang hamba mendapatkan sesuatu dari shalatnya selain apa yang disadari oleh akalnya." Enam ungkapan Al-Ghazali menghimpun sikap-sikap batin dalam enam ungkapan. Kehadiran hati, pemahaman makna, sikap mengagungkan, rasa takut, rasa harap, dan rasa malu. Kehadiran hati adalah kosongnya hati dari segala sesuatu selain dari apa yang dia kerjakan dan ucapkan. Jadi, ilmu tentang perbuatan dan perkataan selalu mengiringi keduanya. Pikiran pun tidak beredar selain kepada keduanya. Pemahaman terhadap makna perkataan merupakan sesuatu yang berada di balik kehadiran hati, yaitu mengandungnya hati atas ilmu tentang makna lafal. Betapa banyak makna-makna halus yang dipahami oleh orang yang mengerjakan shalat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar. Sikap mengagungkan adalah sesuatu yang berada di balik ke hadiran hati dan pemahaman ser ta meningkatkan keduanya. Rasa takut meningkatkan sikap mengagungkan, yakni rasa takut yang ditumbuhkan oleh pengagungan dan pemuliaan. Rasa harap adalah hasrat untuk mendapat pahala dari Allah SWT. Penyeimbangnya adalah rasa takut terhadap sik saan dari Allah atas kelalaiannya dalam menjalankan syariat-Nya. Terakhir, rasa malu bermakna merasa diri berkekurangan dalam menjalan kan syariat dan merasa banyak dosa. Lantas, apa penyebab hadirnya sikap batin ini? Al Ghazali melanjutkan, kehadiran hati disebabkan oleh perhatian. Ia tidak hadir pada apa yang tidak kita perhatikan. Hati itu tercipta demikian dan tunduk kepada hal tersebut. Ketika dia tidak hadir dalam shalat, ia sedang beredar pada urusan-urusan dunia yang menarik perhatian. Pemahaman disebabkan oleh pemusatan hati untuk memahami makna. Cara memperolehnya, yakni dengan pemusatan pikiran disertai dengan kesiagaan penuh untuk menghalau segala bisikan ketika shalat. Caranya, berlepas diri dari berbagai sebab yang memancing bisikan setan. Sikap mengagungkan disebabkan oleh dua keadaan hati. Pertama, pengenalan tentang ke muliaan dan keagungan Allah Azza wa Jalla. Kedua, pengenalan tentang kehinaan dan kerendah an diri serta kejadian diri sebagai hamba yang ditundukkan dan dipelihara. Rasa takut timbul dari keadaan jiwa yang lahir dari pengenalan terhadap kekuasaan Allah dan keberpengaruhan-Nya dan keterlaksanaan kehendak-Nya. Tanpa disertai dengan menyombongi-Nya. Adapun rasa harap lahir dari pengenalan tentang kelembutan Allah, kemurahan-Nya, kemerataan pemberian-Nya, dan kecermatan ciptaan-Nya. Sementara itu, rasa malu muncul karena adanya perasaan kekurangan dalam beribadah dan mengetahui ketidakmampuan diri untuk menegakkan hak-hak Allah Azza wa Jalla. ADA beberapa kelompok yang disebut celaka dalam Al-Quran. Beberapa kali Allah menggunakan kata "Celaka !" bagi tipe-tipe manusia saja mereka?1. Yahudi"Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, kemudian berkata, "Ini dari Allah," dengan maksud untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat."Al-Baqarah 792. Musyrik"Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukan- Nya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka ingkar terhadap kehidupan akhirat."Fussilat 6-73. Kafir"Maka berselisihlah golongan-golongan yang ada di antara mereka. Maka celakalah orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang agung!"Maryam 374. Pembohong"Celakalah bagi setiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa."Al-Jatsiyah 75. Pendusta Agama"Maka celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan."At-Thur 11"Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran."Al-Mursalat 15, 19,24,28,34,37,40,45,47,49Nb Kata "Celaka bagi mereka yang mendustakan kebenaran" disebut 10x dalam surat Al-Mursalat6. Berhati Keras"Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."Az-Zumar 227. Pengumpat"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela."Al-Humazah 18. Lalai Terhadap Waktu Salat"Maka celakalah orang yang shalat. yaitu orang-orang yang lalai terhadap waktu shalatnya"Al-Maun 49. Mengurangi Timbangan"Celakalah bagi orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang!"Al-Muthoffifin 1Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka. Dapatkan Update berita melalui notifikasi browser Anda. Jum'at, 16 Juni 2023 Suandri Ansah Selasa, 31 Agustus 2021 - 1453 WIB Ilustrasi shalat di masjid. Foto iStock. Jakarta - Ummat Islam wajib melaksanakan shalat minimal 17 rakaat dalam lima waktu sehari. Keutamaan ibadah tersebut didapat bila kita tidak lalai dalam surah Al Ma'un ayat 4, Allah berfirman "Celaka lah orang yang shalat". Ancaman ini dikhususkan bagi mereka yang lalai dalam beribadah. Lalu seperti apa indikasi orang lalai dalam shalat?Ini 6 ciri-ciri orang lalai dalam shalat melansir Fatwa Tarjih1. Asal BerwudhuSaat berwudhu, orang-orang lalai ini tidak memperhatikan tatacara wudhu yang Tak Peduli KebersihanMereka yang lalai dalam shalat tidak mempedulikan soal kebersihan tempat dan pakaian yang digunakan untuk Suka MenundaSebagian dari ummat Islam kadang suka menunda waktu shalat, padahal mampu mengerjakannya di awal Terburu-buruMereka yang lalai termasuk juga orang yang shalatnya terburu-buru atau tidak tuma' Tidak KhusyukOrang yang lalai dalam shalat termasuk juga tidak khusyuk atau bersungguh-sungguh mengingat Allah. Namun malah memikirkan hal Tak Jaga Kesempurnaan ShalatMendirikan salat secara asal-asalan, tidak berusaha menyempurnakan tata cara salat, dari segi rukun maupun mencegah dari sifat-sifat lalai ini, ummat Islam harus mulai membiasakan diri shalat berjamaah di masjid. Sebab dengan cara itu kita bisa terlepas dari sebagian besar ciri-ciri orang yang lalai dalam shalat.bal TOPIK TERKAITkeutamaan shalat berjamaahlalai dalam shalatshalat 5 waktuBERITA TERKAIT Virenial – Sholat adalah ibadah wajib yang harus dilaksanakan setiap Muslim, yang wajib ada sebanyak 5 waktu yakni subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya. Shalat juga berfungsi sebagai benteng diri dari perbuatan keji dan shalat terdapat pada banyak ayat di dalam Alquran, selain itu dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda,“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah Salatnya. Maka, jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika salatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari salat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, lihatlah apakah hamba-Ku memiliki salat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari salat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” [HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i]Shalat merupakan amalan yang akan pertama kali dihisab pada Hari Perhitungan Amal kelak. Barangsiapa yang amalan shalatnya baik, dan selalu mendirikan shalat dengan penuh rasa ikhlas maka dia akan dimasukkan ke dalam tahukah kamu bahwa kelak di hari kiamat, akan ada golongan orang-orang yang semasa hidup di dunia mereka rajin shalat, namun mereka tetap celaka dan dimasukkan Allah ke dalam neraka, siapakah mereka?Rajin Shalat, Tapi Menjadi PendustaOrang yang shalat, namun selalu mengatakan hal-hal dusta, maka ia termasuk golongan orang-orang yang celaka meski rajin atau berkata bohong merupakan salah satu dosa besar yang diancam dengan siksa yang pedih di akhirat Scroll to continue itu, berkata dusta juga merupakan salah satu ciri dari orang yang munafik. Sedangkan seorang Muslim tidak boleh memiliki sifat-sifat dari orang Shalat, Tapi Percaya pada DukunAllah Subhanahu wa Ta’ala sangat membenci perbuatan syirik, dan perbuatan syirik adalah sebuah kezhaliman yang besar dan dosanya tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ yang beriman kepada Allah, dan beribadah kepada-Nya hendaknya tidak melakukan hal-hal syirik. Namun, banyak orang yang secara tidak sadar telah melakukan perbuatan satunya adalah mempercayai dukun, peramal, jimat, dan sebagainya yang dianggap bisa memberikan manfaat atau pertolongan untuknya, naudzubillah min Shalat, Tapi Lalai dalam ShalatnyaYang terakhir, golongan orang-orang yang shalat tapi masuk neraka yaitu orang yang lalai dalam Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ، الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ، الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ، وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَArtinya “Maka celakalah orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna.” [QS. Al-Ma’un ayat 4 – 7]Orang-orang yang shalat tapi celaka dalam ayat tersebut yaitu pertama adalah orang yang lalai dalam yang lalai dalam salat berarti ia melakukan shalat hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja, selain itu orang yang lalai dalam shalat juga bisa dikatakan orang-orang yang mengharapkan pujian dari orang lain, agar dianggap rajin beribadah, alim, dan orang kedua yang celaka meski sudah shalat dalam ayat tersebut adalah orang yang riya’. Orang yang memamerkan amal ibadahnya adalah termasuk dalam orang-orang yang riya dan dianggap telah melakukan syirik kecil..Yang terakhir yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah orang yang enggan membant sesamanya dengan hal-hal yang Islam, setiap Muslim diajarkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Jika ada orang yang shalat namun enggan membantu sesamanya, maka ia termasuk dalam golongan orang yang celaka. Wallahua’lam. Adzab dan Dosa Meninggalkan ShalatAllahu Akbar!… Allahu Akbar! Allahu Akbar!… Allahu Akbar!“Duh! Sudah adzan, sebentar lagi ah shalatnya… tanggung kerjaannya tinggal sedikit lagi.”“Eh kok adzan? Padahal filmnya lagi seru nih! Nanti saja shalatnya kalau filmnya sudah selesai ah. Tapi waktu shalatnya nanti keburu habis?! Tunggu iklan saja deh kalau begitu, shalatnya juga harus cepat nih.”Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah…Ketahuilah ukhti bahwa orang-orang tersebut di atas termasuk jenis orang yang melalaikan shalatnya. Perhatikanlah firman Allah, yang artinya “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.” QS. Al-Maa’uun 4-5Al-Haafidz Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, yang dimaksud orang-orang yang lalai dari shalatnya adalahOrang tersebut menunda shalat dari awal waktunya sehingga ia selalu mengakhirkan sampai waktu yang tersebut tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa tersebut tidak khusyu’ dalam shalat dan tidak merenungi makna bacaan siapa saja yang memiliki salah satu dari ketiga sifat tersebut maka ia termasuk bagian dari ayat ini yakni termasuk orang-orang yang lalai dalam shalatnya.Apa Adzabnya ?Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari sahabat Samurah bin Junab radhiyallahu anhu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang tentang sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam kisah tentang mimpi beliau“Kami mendatangi seorang laki-laki yang terbaring dan ada juga yang lain yang berdiri sambil membawa batu besar, tiba-tiba orang tersebut menjatuhkan batu besar tadi ke kepala laki-laki yang sedang berbaring dan memecahkan kepalanya sehingga berhamburanlah pecahan batu itu di sana sini, kemudian ia mengambil batu itu dan melakukannya lagi. Dan tidaklah ia kembali mengulangi lagi hal tersebut sampai kepalanya utuh kembali seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti pertama kali.”Disebutkan dalam penjelasan hadits ini “Sesungguhnya laki-laki tersebut adalah orang yang mengambil Al-Qur’an dan ia menolaknya, dan orang yang tidur untuk meninggalkan shalat wajib.”Lalu Bagaimana Orang yang Meninggalkan Shalat Secara Mutlak ?Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat secara keseluruhan hukumnya kafir keluar dari Islam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam “Perbedaan antara kita dengan mereka orang-orang kafir adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat maka ia telah kafir.” HR. At-Tirmidzi -ShahihDemikianlah Ukhti, marilah kita bersama-sama berusaha maksimal untuk memperbaiki shalat kita karena ketahuilah bahwa amalan yang pertama akan dihisab oleh Allah di akhirat nanti adalah shalat. Dan kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kehinaan dan kondisi orang-orang yang di adzab Allah karena lalai dari Setelah Maut Datang Menjemput Khalid bin Abdurrahman Asy-Syayi’Penulis Ummu Salamah Farosyah Muroja’ah Ustadz Aris Munandar

orang yang lalai dalam shalatnya termasuk golongan orang yang